Banyak di antara kita, yang
setelah sekian tahun belajar di
sekolah formal, menjadi rabun
sastra – meminjam istilah Taufik
Ismail. Ini tampak dari
kenyataan, bahwa anak-anak
yang belum tercemari oleh ilmu
sastra dari sekolah formal,
misalnya anak-anak sekolah
dasar, banyak yang mampu
menulis sastra, baik puisi
maupun cerita pendek. Mereka
begitu bebas dan gembiranya
menuangkan isi pikiran tanpa
beban. Lihat saja karya-karya
mereka di majalah anak-anak
atau surat kabar yang
mempunyai halaman khusus
untuk anak-anak.
Seiring berjalannya waktu,
pendidikan yang dienyam oleh
para pelajar, ilmu yang mereka
miliki pun menjadi semakin
banyak. Alhasil, siswa bukannya
menjadi semakin lancar dan
cinta sastra. Anak usia SMP dan
yang lebih tinggi banyak yang
justru menjadi rabun. Menjadi
semakin jauh dengan yang
namanya sastra baik itu cerpen
maupun puisi.
Kalau kita membaca buku-buku
pelajaran dan buku-buku
tentang sastra yang ditulis oleh
para ahli sastra dan para
sastrawan, kening kita akan
semakin berkerut. Pengertian
puisi, misalnya, sangat banyak
dan beragam. Celakanya,
pengertian ini seringkali menjadi
beban bagi para siswa.
Pengertian ini menjadi belenggu
bagi para pelajar untuk
berkembang. Pengertian sastra
yang dikemukakan oleh para ahli
sastra dan sastrawan seolah
kitab suci untuk menjadi syeh
sastra yang harus dipatuhi.
Semestinya peminat sastra
menyadari terlebih dahulu,
bahwa pengertian-pengertian
yang mereka terima, yang
mereka baca itu adalah hasil oleh
pikir para sastrawan dan ahli
sastra. Bukan untuk peminat
penulisan sastra. Yang lebih
penting adalah bagaimana kita
menuangkan isi pikiran dan
perasaan kita ke dalam bentuk
larik-larik puisi atau narasi.
Menguasai pengertian tentang
sastra bukanlah tidak penting.
Tetap saja itu penting untuk
pengembangan wawasan.
Namun, sekali lagi, yang lebih
penting lagi adalah bagaimana
kita berkarya.
Dalam kepenulisan sastra, puisi
dan cerita pendek, bahkan novel,
pada saat ini yang sedang
menjadi tren adalah munculnya
penulis muda dan artis yang
menulis puisi, cerpen, atau novel.
Tanpa harus menyebutkannya,
pembaca tentu tahu siapa saja
artis dan penulis muda yang
karyanya bermunculan. Bahkan
Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono menuliskan lirik lagu
– puisi yang tidak mau disebut
puisi – kecuali karya Ebiet G. Ade.
Bahkan mereka berdua lebih
unggul dari sekedar penyair.
Keunggulan mereka adalah, di
samping menulis puisi, mereka
juga menjadikannya lagu. Kita
semua tahu, bahwa lagu lebih
populer ketimbang puisi.
Ketika menulis karya sastra, ada
baiknya jika kita berpedoman
pada “puisi adalah menurut
penulisnya”. Dengan pengertian
ini dan tetap tidak lepas dari
pengertian sastra sebagai
sebuah karya tulis, puisi adalah
karya sastra dalam bentuk
tulisan. Apapun tulisan yang kita
hasilkan dengan mengikuti
aturan benrupa contoh yang
pernah dibaca, tentu itu adalah
sebuah puisi.
Memang kita tidak bisa melabrak
batasan yang ada yang secara
fisik tampak bahwa puisi itu
berbait-bait dan berlarik-larik.
Untuk dapat dimuat di surat
kabar atau majalah, puisi yang
ditulis harus menyesuaikan
dengan ruang yang tersedia.
Sehingga kita tidak bisa
membabi buta menulis puisi
panjang di surat kabar yang
yang ruang untuk puisi hanya
sedikit saja. Menulis karya sastra
di media massa, berarti menulis
karya sastra dengan
memperhatikan selera pembaca.
Berbeda dengan menulis sastra
dalam bentuk buku atau majalah
khusus sastra.
Seperti juga menulis yang karya
tulis yang lain, yang sering
ditanyakan lebih dahulu adalah
“apa yang akan ditulis”? Ini
wajar saja bagi yang mau
melangkah ke kepenulisan.
Apakah semua hal dapat ditulis?
Tentu saja dapat. Setiap orang
mempunyai masa pertumbuhan
psikologis yang berbeda. Penulis
sastra dapat menulis sesuai
dengan masa psikologis itu.
Sesuai dengan keluasan dan
kedalaman wawasannya. Pada
saatnya, usia psikologis itu akan
tertinggal oleh kedewasaan
psikologis. Pada saat ini, karya
yang dihasilkan sudah melesat
jauh pada perenungan, bukan
lagi pemaparan apa yang dilihat
dan dirasakan saja.
Menulis karya sastra
berdasarkan pengalaman tentu
mudah. Penulis sastra tidak perlu
memikirkan kritik dari pembaca.
Mengritik karya sastra adalah
tugas pembaca dan kritikus
sastra, sedangkan tugas penulis
sastra adalah berkarya. Jadi,
sekali lagi, yang penting bagi
penulis, adalah berkarya.
Sering muncul juga pertanyaan,
bahkan ini menjadi polemik,
apakah kita perlu membaca
karya sastra hasil karya
sastrawan lain? Tentu ya,
jawabannya. Bagaimana kita
tahu bahwa karya kita baik atau
tidak baik jika tidak ada
pembandingnya. Untuk penulis
pemula, tentu sangat
memerlukan acuan untuk
menghasilkan karya yang
terbaik. Meniru gaya juga sah
saja asal bukan menjadi
plagiator.
Kita semua tentu masih ingat,
ada pepatah yang
mengibaratkan kehidupan
manusia itu seperti roda yang
berputar, kadang di atas, kadang
di bawah. Ya, kehidupan adalah
siklus. Ini artinya, pengalaman
hidup yang sama akan terulang
pada waktu, tempat, dan pelaku
yang berbeda. Cerita rakyat
tentang lelaki yang mengawini
bidadari ada di mana-mana
dengan gaya yang berbeda.
Cerita tentang seorang laki-laki
yang mengawini ibunya ada di
mana-mana.
Tidaklah mengherankan kalau
mantan presiden RI, Soekarno
pernah berucap jasmerah -
jangan sekali-kali meninggalkan
sejarah - karena sejarah akan
selalu terulang. Siklus berlaku di
mana pun. Begitu juga dalam
kehidupan dan sastra. Gaya yang
berbedalah yang menjadi ciri
khas setiap karya. Kedalaman
efek psikologis dalam karya lebih
bermakna daripada sekadar
jalan cerita. Kejutan klimaks dan
ending lebih berperan untuk
menguatkan cerita.
Selanjutnya, ladang untuk
menanam benih sastra itu,
apakah sudah dipupuk dan
dirawat? Maksudnya medianya
yang sudah tersedia, koran,
majalah, buku, atau media lain
sudah ada yang
memanfaatkannya. Apakah
dijaga oleh kita? Apakah kita
mengisinya? Apakah kita
menghidupkannya dengan
membelinya, lalu menglipingnya?
Apakah kita sudah
mendiskusikan isinya?
Itulah lahan, pupuk, dan
perawatan terhadap karya
sastra. Di sini sudah ada
lahannya. Sekarang waktunya
kita menanam, memupuk, dan
merawatnya hingga suatu saat
kita akan memanennya. Peran
guru bahasa sangat penting
dalam hal ini. Tertantangkah
kita?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar